Tag: anak

Dalam beberapa bulan terakhir, saya sedang sangat bersemangat untuk belajar ilmu pendidikan dan parenting. Perhatian dan minat saya kepada ilmu pendidikan dan parenting sesungguhnya memang sudah timbul semenjak dua tahun yang lalu. Namun, dalam beberapa bulan terakhir ini intensitasnya meningkat drastis, mengingat semakin dekatnya saya dengan impian terbesar saya sebagai seorang perempuan: menjadi istri dan ibu terbaik bagi keluarga dan anak-anak saya nantinya. Seperti halnya dalam ilmu-ilmu yang lainnya, perdebatan di dalam ilmu pendidikan dan parenting pun tidak terlepas dari perdebatan dan perbedaan pendapat. Sebagai contoh penggunaan kata jangan. Beberapa pandangan menyatakan untuk meminimalisir penggunaan kata jangan, karena dianggap akan menghambat kreativitas dan eksplorasi anak. Sementara ada pandangan lain yang mengatakan bahwa penggunaan kata “jangan” tidak sepatutnya dilarang, karena toh di dalam Al-Qur’an ada sekian banyak kata jangan yang digunakan oleh Lukman untuk menasehati anaknya.

Tentang perbedaan pendapat ini, menurut pandangan saya seharusnya disesuaikan dengan konteks penggunaan kata dan usia anak yang diajak berkomunikasi. Jika konteksnya adalah untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat eksploratif, tidak berbahaya, namun mungkin akan “mengganggu” orang dewasa sekitarnya seperti mencoret-coret tembok, bermain yang kotor-kotor, atau membuat berantakan ruangan, maka pelarangan dengan kata “jangan” yang berlebihan tidak akan berdampak positif terhadap karakter kreatif dan keberanian anak. Sementara untuk hal-hal yang benar-benar membahayakan atau terlarang, seperti menyekutukan Allah dalam kasus surat Lukman atau bermain api dengan kompor, maka kata jangan justru harus digunakan untuk menekankan pelarangan.

Menilik keberagaman pandangan teori psikologi & pendidikan, serta kondisi dan konteks yang mungkin dihadapi oleh orangtua/guru/pendidik dalam menghadapi anak ataupun anak didik, maka saya berpikir pasti terdapat suatu tolok ukur sederhana yang bisa digunakan untuk memfilter dan memilih penggunaan ilmu-ilmu parenting pada situasi atau kondisi tertentu. Apalagi dengan adanya tantangan yang berbeda-beda di tempat dan kondisi zaman yang berbeda. Bisa jadi ilmu parenting dan pendidikan yang ada sudah kurang relevan dan kurang sesuai konteks dengan anak masa kini yang cenderung kritis dan tantangan yang lebih besar. Dalam berbagai macam diskusi dengan orangtua/guru, saya sering mendapat keluhan yang bernada seperti ini, “Teorinya sih tahu. Tapi praktiknya aduuh, susahnya bukan main. Butuh kesabaran luar biasa. Apalagi anak zaman sekarang pandai menjawab, yang membuat saya bingung mau menanggapi bagaimana…”

Jujur saja, saya memang belum pernah merasakan bagaimana sulitnya mendidik anak sendiri, bagaimana beratnya tetap bertahan pada prinsip komunikasi positif sementara kondisi sedemikian negative dan memicu amarah, ataupun bagaimana menangani anak yang mengalami tantrum di tempat umum demi meminta dibelikan mainan. Pengalaman mengajar dan mendidik saya hanya sebatas pada anak-anak di daycare, anak-anak di rumbel, ataupun anak didik les privat saya. Itu saja, menurut saya sudah membutuhkan kesabaran ekstra. Namun, saya tetap percaya. Bahwa pasti ada sebuah prinsip-prinsip universal yang bisa diterapkan dalam setiap situasi dan kondisi. Bahwa ada sebuah pemahaman mendasar-universal atau yang biasa saya sebut sebagai “hakikat” yang menjadi landasan semua konten dan metode dalam pendidikan yang ada. Keyakinan ini menuntun saya untuk menyelami substansi mendasar dari manusia itu sendiri. Karena pada dasarnya, anak hanyalah manusia-manusia kecil yang membutuhkan bimbingan, arahan, dan pengajaran, dari manusia-manusia yang lebih dahulu lahir dan mengenal dunia, yang biasa disebut dengan “orang dewasa” (saya lebih suka menggunakan frasa lebih dahulu lahir karena pada faktanya seringkali kedewasaan tidak berbanding lurus dengan usia). Tugas sebagai manusia yang lebih dahulu lahir ini bukanlah mendikte, menyuruh, mendoktrin, ataupun memaksakan kehendak, pemikiran, dan impiannya ke anaknya. Namun, bagaimana orang-orang yang “duluan lahir” ini mentransfer segala macam ilmu dan keterampilan tentang hidup dan kehidupan yang telah ia kumpulkan di sepanjang perjalanan, kepada anak yang baru saja mengenal dunia. Sehingga, diharapkan kelak ketika ia menjadi dewasa, ia sudah cukup bekal dan amunisi untuk “selamat” menghadapi dunia. Menjadikan anak bukan hanya sekedar tahu, namun juga mampu. Karena bagi saya, hakikat dari proses pendidikan adalah pengembangan kualitas dan kapasitas manusia. Bukan hanya tentang nilai-nilai angka di atas kertas maupun deretan sertifikat prestasi.

Berangkat dari pemahaman ini, maka pertanyaan yang harus dijawab menjadi berlanjut. Tidak hanya menjawab apa sesungguhnya “hakikat” dasar manusia untuk memfilter penggunaan ilmu-ilmu parenting dan pendidikan yang ada, namun juga konten dan materi apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak agar ia siap menghadapi dunianya secara mandiri di masa depan. Hasil dari pencarian pemikiran saya berujung pada pemahaman akan substansi dasar manusia.

Pada hakikatnya, manusia terdiri dari 3 unsur utama: jasad-akal/otak/pemikiran-hati/jiwa/ruh. Kombinasi ketiga aspek utama inilah yang membedakan seorang manusia dengan makhluk lainnya. Akal dan Hati adalah potensi terbesar yang diberikan Tuhan secara spesial hanya kepada manusia. Karena itu, pengembangan ketiga aspek ini haruslah seimbang agar menjadi sesosok manusia yang utuh dan paripurna. Kualitas otak dan pemikiran yang baik akan menghasilkan sesosok manusia yang cerdas. Sedangkan kualitas hati yang baik akan menghasilkan sesosok manusia yang mulia. Gabungan dari seseorang yang memiliki kecerdasan dan hati yang baik ini saya sebut sebagai manusia yang Cerdas&Mulia.

Begitu juga halnya dengan pendidikan. Sebuah proses pendidikan yang berkualitas tentu saja haruslah mencakup ketiga unsur ini secara holistik. Mengembangkan kesadaran dan kebersihan ruhani/hati, mengasah ketajaman pikir akal/otak, sekaligus memperkuat jasmani. Begitu pula dalam menentukan sikap/metode dalam mendidik/meluruskan sikap anak dalam menasehati. Haruslah mempertimbangkan ketiga unsur utama manusia tersebut. Apakah metode yang digunakan akan mengembangkan kualitas pemikiran, ataukah justru menghancurkannya? Apakah metode yang digunakan dapat mengasah kualitas ketangguhan dan kelembutan hati, ataukah justru mengeraskannya? Apakah metode yang digunakan dapat memperkuat jasmani atau justru membuatnya menjadi lemah?

Mungkin melatih jasmani atau tubuh bisa dikatakan relatif lebih mudah daripada melatih otak dan hati. Dengan rutin berolahraga, makan makanan yang bergizi, pola hidup sehat, minum dan istirahat yang cukup insyaAllah jasmani akan terjaga kekuatannya. Namun, pengembangan akal dan hati yang merupakan potensi utama dan spesial milik manusia inilah yang relatif lebih sulit. Apalagi jika kesadaran mengenai pentingnya kedua aspek ini belum tertanam dalam diri orangtua. Kasus-kasus “salah kaprah” pendidikan oleh orangtua yang menganggap “sudah memberikan yang terbaik bagi anak” namun ternyata justru menghancurkan anaknya sendiri adalah fenomena yang banyak terjadi. Fenomena-fenomena seperti anak yang beralih kepada narkoba atau pergaulan bebas, adalah buah dari kurangnya “asupan hati” berupa kasih sayang di rumah. Materi yang diberikan oleh orangtua hanya bisa memberi makan jasmani, namun tidak menumbuhkan ketajaman berpikir dan kelembutan hati. Ataupun orangtua yang seringkali menyalahkan, menghakimi, mengejek, menjatuhkan, atau membentak anak-anaknya tanpa mau memahami duduk perkara dari sudut pandang anak. Selain mematikan sel-sel jaringan otak, tipikal pendidikan semacam ini pun dapat menyakiti dan mengeraskan hati. Dampaknya adalah anak yang menyimpan dendam, membelot, membangkang, dan mencari pelarian lain di luar rumah. Namun sebaliknya, terlalu menuruti permintaan anak dan memanjakannya juga bukan merupakan pilihan bijak. Mungkin cara ini bisa menyenangkan hatinya, namun tidak menguatkan pemikiran, karakter, dan jiwanya. Jiwa dan hati haruslah tangguh, namun tidak keras. Lembut, namun tidak lemah. Karena yang akan disiapkan adalah generasi masa depan dengan tantangan, cobaan, dan ujian yang bisa jadi berkali lipat lebih berat daripada tantangan yang dihadapi “generasi lahir duluan” saat ini. Ingat, yang harus disiapkan oleh “generasi pendahulu” ini adalah sesosok manusia yang tidak hanya utuh secara fisik-akal-hati, namun juga tahu dan mampu menghadapi tantangan-tantangan dunia. Maka, sebagai generasi yang “lahir duluan”, meski mungkin masih membujang dan belum memiliki amanah untuk membangun generasi, ada baiknya kita mulai menyiapkan diri. Saya menulis ini pun bukan berarti saya sudah menjadi sosok yang baik dan memenuhi kualitas Cerdas&Mulia, yakni hati dan otak yang mumpuni. Namun, saya berharap bahwa dengan kesadaran adanya 2 potensi utama diri ini, kita menjadi terbangkitkan untuk senantiasa mengecek dan mengembangkan kualitas kedua potensi ini baik pada diri kita sendiri maupun pada diri anak-anak kita di masa depan. Meskipun mungkin masih membujang, tak ada salahnya menyiapkan diri untuk menjadi orangtua yang Cerdas&Mulia, untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan nantinya :)

Maret, 2015

nurimannisa

diambil dari:

http://alkindikids.com/memahami-hakikat-manusia-untuk-menjadi-orangtua-cerdas-mulia/

free vectors