Hidup di Ibukota, memang membutuhkan energi dan perjuangan ekstra. Sebagai seorang anak perantauan, saya bisa merasakan perbedaan yang cukup signifikan antara kebutuhan hidup di Jakarta dengan kebutuhan kehidupan di daerah. Sekolah yang sedemikian mahal, bensin, tol, makan, pakaian, tempat tinggal, belum lagi agenda hiburan. Namun, besarnya kebutuhan ternyata sejalan dengan tingkat pendapatan dan kesempatan, yang notabene lebih tinggi dari beberapa daerah di luar ibukota. Karena tingginya kebutuhan finansial, dan mungkin juga adanya kebutuhan aktualisasi diri, dewasa ini banyak perempuan yang memilih menjadi wanita karir dan bekerja di luar rumah. Hal ini tentu saja menjadi sebuah dilema. Mengingat ketika sudah menikah, perempuan sesungguhnya memiliki kewajiban utama untuk melayani suami, mendidik anak, dan mengelola rumah tangga. Jika untuk urusan rumah tangga, mungkin memang ada asisten rumah tangga yang siap membantu kita. Urusan suami, biasanya baru benar-benar dibutuhkan sore hingga malam hari, ketika suami pulang kerja. Namun, jika urusan anak? Apakah Anda yakin, ingin menitipkannya pada baby sitter atau asisten rumah tangga? Jika tidak, lalu siapa yang hendak menjaga anak kita? Neneknya kah? Tantenya kah? Atau, daycare? Depok sebagai kota satelit memberikan banyak pilihan tempat penitipan anak atau daycare.

3 Tahun Paling Penting dalam Kehidupan.

Di antara sekian banyak faktor dalam kesuksesan seseorang di masa depan, ternyata pendidikan dan stimulasi pada saat usia dini (Early Childhood Education) memegang peranan kunci. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hal ini. Yang pertama, faktor psikologis. Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa pada usia Golden Age ini, terjadi proses pembentukan neuron, hingga 80% dari volume otak orang dewasa. Karena itu, memberikan stimulasi yang kaya dan pendidikan yang memadai untuk anak usia dini merupakan hal yang sangat penting. Bahkan, sejumlah riset menunjukkan bahwa setiap Dollar yang diinvestasikan untuk pendidikan Anak Usia Dini menghasilkan rata-rata $7-$13 di masa depan. Berdasarkan penelitian High Scope, anak-anak yang usia Golden Age nya terstimulasi dengan baik memiliki kesiapan masuk sekolah, prestasi akademis, dan bahkan tingkat pendapatan yang lebih tinggi sekitar 40% ketika mereka dewasa. Pendidikan dan stimulasi pada karakter juga dimulai pada usia ini. Segala input yang masuk di usia dini, akan membekas hingga seseorang tumbuh dewasa. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa, “mendidik di usia dini bagaikan mengukir pada sebuah batu.” Maka, menentukan dan membentuk lingkungan yang tepat pada masa keemasan anak, merupakan hal yang sangat penting. Salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah daycare. Karena, daycare bisa memberikan beberapa dampak positif kepada ananda, seperti melatih bersosialisasi, memperkaya stimulus yang diberikan, melatih anak untuk berbagi (hal ini merupakan poin penting untuk mengurangi karakter Egosentris, yang merupakan tugas perkembangan di usia 3 tahun menurut teori Erikson), membentuk kebiasaan positif, melatih kemandirian, hingga membentuk disiplin dan hidup teratur melalui rutinitas daycare yang terjadwal. Lalu, bagaimana caranya memilih daycare yang baik? Berikut ini beberapa tips yang bisa dijadikan bahan pertimbangan.

7 Tips Memilih Daycare

1.      Cari yang memberikan pendidikan agama dan akhlak

Bagaimanapun, faktor agama adalah hal yang sangat penting dalam membentuk karakter ananda. Apalagi di masa-masa emas. Karena bagaimanapun, tujuan utama sebuah keluarga muslim tentu saja ingin membentuk anak yang sholeh-sholehah, cerdas pikirnya, dan mulia akhlaknya. Membimbing anak-anak kita untuk sukses baik di dunia maupun di akhiratnya. Dunia hanyalah perjalanan untuk mengumpulkan perbekalan menuju kematian, maka mengumpulkan bekal keimanan semenjak dini adalah hal yang paling krusial. Mencarikan sebuah lingkungan yang membuat anaknya mencintai dan mengenal Allah sebagai Tuhan, Rasulullah sebagai Teladan, dan Al-Qur’an sebagai pedoman, menjadi salah satu tanggungjawab penting orangtua. Karena sesungguhnya amanah orangtua yang paling utama adalah membimbing anak sesuai fitrahnya: kembali kepada Tuhannya. Maka dari itu, mencari daycare yang mendukung tujuan utama kehidupan ini menjadi hal yang sangat penting.

2.      Perhatikan konsep, kurikulum, stimulus yang diberikan

Salah satu poin penting dan kelebihan menitipkan anak di daycare daripada menitipkannya kepada asisten rumah tangga atau babysitter adalah karena kualitas stimulus yang diberikan. Sebuah riset mengatakan bahwa kualitas otak dan kecerdasan seseorang sesungguhnya bermuara pada 3 hal: genetis, nutrisi, dan stimulus. Maka, mengkaji visi, konsep, dan kurikulum utama yang ditawarkan sebuah daycare menjadi hal yang sangat penting. Karena sebagian waktu aktif ananda berada di daycare, kita harus mengetahui, “hendak dibawa ke mana kah anak kita?” JIka daycare tidak memiliki sebuah kurikulum atau konsep pendidikan yang jelas, lebih baik mencari yang lain lagi. Karena bagaimanapun, sungguh amat disayangkan jika periode emas dengan pengembangan neuron otak yang sangat pesat tersebut tidak dikembangkan secara maksimal.

3.      Pengajar: Jumlah, Latar Belakang, Keterbukaan, dan Kerjasama

Mencari daycare yang baik, berarti kita mencari sosok pengganti “ayah-bunda” yang akan menggantikan tugas utama kita menjaga dan mendidik anak-anak kita. Di antara sekian banyak karakter, yang paling penting diperhatikan adalah karakter mengasihi, menyayangi, dan mencintai. Karena bagaimanapun, di usia tersebut (dan usia-usia selanjutnya bahkan hingga dewasa), kebutuhan utama seseorang adalah afeksi: disayangi, dicintai, dibelai, dan dipeluk. Maka, carilah daycare yang memiliki pengajar dan pengasuh yang memiliki kasih sayang yang tinggi. Setelah menilai karakter pengajar, barulah kita menilai rasio pengajar dan murid (maksimal 1:4), jumlah kuota maksimal murid (daycare yang baik akan membatasi jumlah muridnya sesuai dengan kapasitas ruangan), dan latar belakangnya. Sangat penting dalam sebuah daycare memiliki setidaknya satu orang yang berpengalaman menjadi guru TK/PAUD. Selanjutnya, barulah menilik bagaimana keterbukaan pengajar dalam melaporkan kondisi di daycare kepada orangtua murid, dan bagaimana komitmen pengajar-pemilik daycare untuk  bekerjasama bahu membahu untuk mengembangkan ananda.

4.      Kebersihan, Kenyamanan, Keamanan tempat

Kualitas lingkungan dan ruangan daycare tempat ananda beraktivitas sehari-hari menjadi hal yang penting untuk dikaji berikutnya. Poin kebersihan, kenyamanan, dan keamanan tempat adalah hal yang perlu dikaji. Lebih baik jika posisi daycare jauh dari jalan raya, dan berbentuk rumah yang membuat anak lebih merasa nyaman seperti di rumah sendiri. Perlu juga dilihat, apakah daycare memiliki ruang yang cukup lapang untuk anak bermain dan berlarian dengan bebas. Usia 1-5 tahun adalah masa di mana anak-anak sangat suka mengeksplorasi dan berlari ke sana ke mari untuk melatih motorik kasar mereka.

5.      Laporan Harian

Daycare yang baik akan memberikan laporan kepada ananda, entah secara lisan ataupun tulisan melalui catatan ataupun “Buku Perkembangan” mengenai bagaimana progress perkembangan ananda di daycare. Pengajar yang dapat dengan mudah diakses melalui beberapa aplikasi chat seperti What’s app, BBM, atau line, akan memberikan kemudahan komunikasi kepada orangtua yang membuat hati lebih tenang.

6.      Lokasi

Pilihan lokasi menjadi hal yang penting. Dalam memilih daycare, sebaiknya memilih di antara dua opsi: dekat dengan rumah, atau dekat dengan kantor. Jika dekat dengan rumah, keuntungannya orang-orang di rumah yang lain bisa menjemput jika orangtua berhalangan. Jika mencari di daerah margonda, terdapat daycare TPA Makara di Universitas Indonesia. Jika di daerah Beji-Kukusan-Tanah Baru, terdapat Tsabitha daycare. Jika di daerah depok timur, depok 2, sukmajaya, raden saleh, studio alam, bella casa, terdapat Alkindi Islamic Daycare Plus yang bisa mejadi piihan.

7.      Harga & Ketersediaan Trial

Poin ketujuh untuk dijadikan bahan pertimbangan adalah harga dan ketersediaan free trial. Free trial akan sangat bermanfaat untuk menghitung jarak tempuh rumah-daycare, ketepatan waktu penjemputan, dan tentu saja kenyamanan anak saat di daycare. Meskipun begitu, ketika anak menangis ketika ditinggal pertama kali adalah hal yang wajar. Tidak perlu panik :) Adaptasi anak memang memerlukan waktu yang cukup lama. Yang terpenting adalah melalui free trial ini kita akan melihat bagaimana para pengajar berkomunikasi dan mengelola kegiatan. Harga juga menjadi bahan pertimbangan. Patut diperhatikan bahwa yang terpenting bukan tinggi-rendahnya harga,  namun perbandingan antara harga dengan value yang diberikan. Kalau menurut hemat penulis, bagaimanapun memilih kualitas pendidikan, program, dan stimulus yang diberikan adalah yang pertama. Masa emas anak hanya satu kali, jadi jangan sia-siakan begitu saja :)

 

 

Demikian beberapa panduan memilih daycare dari penulis. Semoga bermanfaat dan bisa membantu bunda memilih tempat terbaik untuk ananda :)

Dalam beberapa bulan terakhir, saya sedang sangat bersemangat untuk belajar ilmu pendidikan dan parenting. Perhatian dan minat saya kepada ilmu pendidikan dan parenting sesungguhnya memang sudah timbul semenjak dua tahun yang lalu. Namun, dalam beberapa bulan terakhir ini intensitasnya meningkat drastis, mengingat semakin dekatnya saya dengan impian terbesar saya sebagai seorang perempuan: menjadi istri dan ibu terbaik bagi keluarga dan anak-anak saya nantinya. Seperti halnya dalam ilmu-ilmu yang lainnya, perdebatan di dalam ilmu pendidikan dan parenting pun tidak terlepas dari perdebatan dan perbedaan pendapat. Sebagai contoh penggunaan kata jangan. Beberapa pandangan menyatakan untuk meminimalisir penggunaan kata jangan, karena dianggap akan menghambat kreativitas dan eksplorasi anak. Sementara ada pandangan lain yang mengatakan bahwa penggunaan kata “jangan” tidak sepatutnya dilarang, karena toh di dalam Al-Qur’an ada sekian banyak kata jangan yang digunakan oleh Lukman untuk menasehati anaknya.

Tentang perbedaan pendapat ini, menurut pandangan saya seharusnya disesuaikan dengan konteks penggunaan kata dan usia anak yang diajak berkomunikasi. Jika konteksnya adalah untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat eksploratif, tidak berbahaya, namun mungkin akan “mengganggu” orang dewasa sekitarnya seperti mencoret-coret tembok, bermain yang kotor-kotor, atau membuat berantakan ruangan, maka pelarangan dengan kata “jangan” yang berlebihan tidak akan berdampak positif terhadap karakter kreatif dan keberanian anak. Sementara untuk hal-hal yang benar-benar membahayakan atau terlarang, seperti menyekutukan Allah dalam kasus surat Lukman atau bermain api dengan kompor, maka kata jangan justru harus digunakan untuk menekankan pelarangan.

Menilik keberagaman pandangan teori psikologi & pendidikan, serta kondisi dan konteks yang mungkin dihadapi oleh orangtua/guru/pendidik dalam menghadapi anak ataupun anak didik, maka saya berpikir pasti terdapat suatu tolok ukur sederhana yang bisa digunakan untuk memfilter dan memilih penggunaan ilmu-ilmu parenting pada situasi atau kondisi tertentu. Apalagi dengan adanya tantangan yang berbeda-beda di tempat dan kondisi zaman yang berbeda. Bisa jadi ilmu parenting dan pendidikan yang ada sudah kurang relevan dan kurang sesuai konteks dengan anak masa kini yang cenderung kritis dan tantangan yang lebih besar. Dalam berbagai macam diskusi dengan orangtua/guru, saya sering mendapat keluhan yang bernada seperti ini, “Teorinya sih tahu. Tapi praktiknya aduuh, susahnya bukan main. Butuh kesabaran luar biasa. Apalagi anak zaman sekarang pandai menjawab, yang membuat saya bingung mau menanggapi bagaimana…”

Jujur saja, saya memang belum pernah merasakan bagaimana sulitnya mendidik anak sendiri, bagaimana beratnya tetap bertahan pada prinsip komunikasi positif sementara kondisi sedemikian negative dan memicu amarah, ataupun bagaimana menangani anak yang mengalami tantrum di tempat umum demi meminta dibelikan mainan. Pengalaman mengajar dan mendidik saya hanya sebatas pada anak-anak di daycare, anak-anak di rumbel, ataupun anak didik les privat saya. Itu saja, menurut saya sudah membutuhkan kesabaran ekstra. Namun, saya tetap percaya. Bahwa pasti ada sebuah prinsip-prinsip universal yang bisa diterapkan dalam setiap situasi dan kondisi. Bahwa ada sebuah pemahaman mendasar-universal atau yang biasa saya sebut sebagai “hakikat” yang menjadi landasan semua konten dan metode dalam pendidikan yang ada. Keyakinan ini menuntun saya untuk menyelami substansi mendasar dari manusia itu sendiri. Karena pada dasarnya, anak hanyalah manusia-manusia kecil yang membutuhkan bimbingan, arahan, dan pengajaran, dari manusia-manusia yang lebih dahulu lahir dan mengenal dunia, yang biasa disebut dengan “orang dewasa” (saya lebih suka menggunakan frasa lebih dahulu lahir karena pada faktanya seringkali kedewasaan tidak berbanding lurus dengan usia). Tugas sebagai manusia yang lebih dahulu lahir ini bukanlah mendikte, menyuruh, mendoktrin, ataupun memaksakan kehendak, pemikiran, dan impiannya ke anaknya. Namun, bagaimana orang-orang yang “duluan lahir” ini mentransfer segala macam ilmu dan keterampilan tentang hidup dan kehidupan yang telah ia kumpulkan di sepanjang perjalanan, kepada anak yang baru saja mengenal dunia. Sehingga, diharapkan kelak ketika ia menjadi dewasa, ia sudah cukup bekal dan amunisi untuk “selamat” menghadapi dunia. Menjadikan anak bukan hanya sekedar tahu, namun juga mampu. Karena bagi saya, hakikat dari proses pendidikan adalah pengembangan kualitas dan kapasitas manusia. Bukan hanya tentang nilai-nilai angka di atas kertas maupun deretan sertifikat prestasi.

Berangkat dari pemahaman ini, maka pertanyaan yang harus dijawab menjadi berlanjut. Tidak hanya menjawab apa sesungguhnya “hakikat” dasar manusia untuk memfilter penggunaan ilmu-ilmu parenting dan pendidikan yang ada, namun juga konten dan materi apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak agar ia siap menghadapi dunianya secara mandiri di masa depan. Hasil dari pencarian pemikiran saya berujung pada pemahaman akan substansi dasar manusia.

Pada hakikatnya, manusia terdiri dari 3 unsur utama: jasad-akal/otak/pemikiran-hati/jiwa/ruh. Kombinasi ketiga aspek utama inilah yang membedakan seorang manusia dengan makhluk lainnya. Akal dan Hati adalah potensi terbesar yang diberikan Tuhan secara spesial hanya kepada manusia. Karena itu, pengembangan ketiga aspek ini haruslah seimbang agar menjadi sesosok manusia yang utuh dan paripurna. Kualitas otak dan pemikiran yang baik akan menghasilkan sesosok manusia yang cerdas. Sedangkan kualitas hati yang baik akan menghasilkan sesosok manusia yang mulia. Gabungan dari seseorang yang memiliki kecerdasan dan hati yang baik ini saya sebut sebagai manusia yang Cerdas&Mulia.

Begitu juga halnya dengan pendidikan. Sebuah proses pendidikan yang berkualitas tentu saja haruslah mencakup ketiga unsur ini secara holistik. Mengembangkan kesadaran dan kebersihan ruhani/hati, mengasah ketajaman pikir akal/otak, sekaligus memperkuat jasmani. Begitu pula dalam menentukan sikap/metode dalam mendidik/meluruskan sikap anak dalam menasehati. Haruslah mempertimbangkan ketiga unsur utama manusia tersebut. Apakah metode yang digunakan akan mengembangkan kualitas pemikiran, ataukah justru menghancurkannya? Apakah metode yang digunakan dapat mengasah kualitas ketangguhan dan kelembutan hati, ataukah justru mengeraskannya? Apakah metode yang digunakan dapat memperkuat jasmani atau justru membuatnya menjadi lemah?

Mungkin melatih jasmani atau tubuh bisa dikatakan relatif lebih mudah daripada melatih otak dan hati. Dengan rutin berolahraga, makan makanan yang bergizi, pola hidup sehat, minum dan istirahat yang cukup insyaAllah jasmani akan terjaga kekuatannya. Namun, pengembangan akal dan hati yang merupakan potensi utama dan spesial milik manusia inilah yang relatif lebih sulit. Apalagi jika kesadaran mengenai pentingnya kedua aspek ini belum tertanam dalam diri orangtua. Kasus-kasus “salah kaprah” pendidikan oleh orangtua yang menganggap “sudah memberikan yang terbaik bagi anak” namun ternyata justru menghancurkan anaknya sendiri adalah fenomena yang banyak terjadi. Fenomena-fenomena seperti anak yang beralih kepada narkoba atau pergaulan bebas, adalah buah dari kurangnya “asupan hati” berupa kasih sayang di rumah. Materi yang diberikan oleh orangtua hanya bisa memberi makan jasmani, namun tidak menumbuhkan ketajaman berpikir dan kelembutan hati. Ataupun orangtua yang seringkali menyalahkan, menghakimi, mengejek, menjatuhkan, atau membentak anak-anaknya tanpa mau memahami duduk perkara dari sudut pandang anak. Selain mematikan sel-sel jaringan otak, tipikal pendidikan semacam ini pun dapat menyakiti dan mengeraskan hati. Dampaknya adalah anak yang menyimpan dendam, membelot, membangkang, dan mencari pelarian lain di luar rumah. Namun sebaliknya, terlalu menuruti permintaan anak dan memanjakannya juga bukan merupakan pilihan bijak. Mungkin cara ini bisa menyenangkan hatinya, namun tidak menguatkan pemikiran, karakter, dan jiwanya. Jiwa dan hati haruslah tangguh, namun tidak keras. Lembut, namun tidak lemah. Karena yang akan disiapkan adalah generasi masa depan dengan tantangan, cobaan, dan ujian yang bisa jadi berkali lipat lebih berat daripada tantangan yang dihadapi “generasi lahir duluan” saat ini. Ingat, yang harus disiapkan oleh “generasi pendahulu” ini adalah sesosok manusia yang tidak hanya utuh secara fisik-akal-hati, namun juga tahu dan mampu menghadapi tantangan-tantangan dunia. Maka, sebagai generasi yang “lahir duluan”, meski mungkin masih membujang dan belum memiliki amanah untuk membangun generasi, ada baiknya kita mulai menyiapkan diri. Saya menulis ini pun bukan berarti saya sudah menjadi sosok yang baik dan memenuhi kualitas Cerdas&Mulia, yakni hati dan otak yang mumpuni. Namun, saya berharap bahwa dengan kesadaran adanya 2 potensi utama diri ini, kita menjadi terbangkitkan untuk senantiasa mengecek dan mengembangkan kualitas kedua potensi ini baik pada diri kita sendiri maupun pada diri anak-anak kita di masa depan. Meskipun mungkin masih membujang, tak ada salahnya menyiapkan diri untuk menjadi orangtua yang Cerdas&Mulia, untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan nantinya :)

Maret, 2015

nurimannisa

diambil dari:

http://alkindikids.com/memahami-hakikat-manusia-untuk-menjadi-orangtua-cerdas-mulia/

Dewasa ini, kita sering melihat fenomena anak-anak yang cerdas, namun tidak baik dalam hal perangai atau akhlak. Atau ada juga fenomena anak-anak yang sesungguhnya cerdas namun justru terjebak di dalam pergaulan kurang baik, atau bahkan kurang beriman dan kurang taat dalam hal agama. Hal ini dikarenakan kebanyakan dari kita mendefinisikan sukses sebagai kekayaan, nilai yang baik, kedudukan yang tinggi, atau berbagai macam hal yang bersifat materiil lainnya. Namun, apakah benar hal itu adalah kesuksesan yang sesungguhnya dicari? Sesungguhnya, semua hal yang kita lakukan akan bermuara kepada apa yang menjadi tujuan akhir dari masing-masing orang.

Berdasarkan pengamatan saya pribadi, tujuan akhir ini seringkali mengalami pergeseran dari nilai-nilai utama yang sesungguhnya. Sebagai contoh, jika tujuan akhir dari belajar adalah menjadi cerdas dan mencari ilmu, maka seharusnya setiap pelajar memiliki semangat untuk terus meningkatkan kapasitas diri dengan belajar. Seharusnya, tidak ada pelajar yang berbuat bodoh dengan malas belajar dan memilih mencontek saat ujian. Namun, karena dewasa ini tujuan dari belajar sudah bergeser dari meningkatkan kapasitas diri dan mencerdaskan diri sendiri menjadi mencapai nilai yang tinggi, seringkali jalan-jalan pintas seperti mencontek menjadi solusi. Begitu pula dengan perilaku-perilaku seperti korupsi, mencuri, dan berbagai hal negatif lainnya yang sungguh mengiris hati.

 

Salah satu tujuan kami membangun Alkindi Islamic Daycare Plus ini adalah untuk mengembalikan kesadaran diri masyarakat Indonesia akan tujuan kehidupan yang hakiki dengan menanamkan nilai-nilai utama sejak dini. Sesuai dengan filosofi yang tergambarkan dari logo kami, yakni sebuah keseimbangan kanan dan kiri; yin & yang : kecerdasan pikiran yang digambarkan dengan wana kuning, dan kemuliaan hati yang digambarkan dengan warna biru. Dua hal inilah, yakni otak (pikiran) dan hati, yang melebihkan manusia dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Maka pemaksimalan pada dua unsur kunci inilah yang lebih ditekankan di Alkindi Islamic Daycare Plus, demi membangun insan yang brilian, yakni yang cerdas dan mulia.

Adapun bentuk lampu yang diambil sebagai forma keseimbangan tampil sebagai representasi dari kecerdasan yang sesungguhnya. Lampu adalah pralambang dari kecerdasan yang memberikan banyak kebermanfaatan, dan sekaligus sebagai hasil dari suatu kecerdasan yang dibalut dengan kerja keras yang konsisten oleh seorang genius, Thomas Alva Edison. Maka, di sini kami ingin menyuarakan bahwasanya tiada guna kecerdasan tanpa kebermanfaatan bagi sesama, dan tidak akan pernah ada kecerdasan dan kebermanfaatan tanpa adanya kerja keras, konsistensi, dan perjuangan.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana caranya? Metode pengembangan anak di Alkindi Islamic Daycare Plus disandarkan pada 3 pilar yang bersumber dari 1 energi. Sumber energy utama yang menjadi landasan adalah cinta dan kasih sayang yang digambarkan dengan warna merah jambu. Karena kami percaya, bahwasanya tidak aka nada pendidikan terbaik tanpa adanya cinta dan kasih sayang. Sumber energy cinta dan kasih sayang ini akan mengalir menuju 3 pilar kekuatan utama, yakni: 1. keteladanan karakter (warna merah), 2. kepedulian terhadap sesama & lingkungan (warna hijau), serta 3. kreativitas, inovasi, dan peningkatan berkelanjutan (warna oranye). Dari satu sumber energy dan 3 pilar inilah, Alkindi Islamic Daycare Plus berharap bisa berperan dalam membantu membentuk generasi Indonesia yang brilian, yakni yang cerdas sekaligus mulia. :)

 

Memiliki seorang anak yang sholeh/sholehah, cerdas, dan berakhlak mulia, adalah dambaan bagi setiap orangtua. Namun apakah hal itu akan terjadi begitu saja? Tentu saja tidak. Manusia adalah sekumpulan proses, dan sesungguhnya bagaimana jadinya anak kita nantinya di masa depan, sangat bergantung pada bagaimana cara kita mengembangkan dan mendidiknya semenjak belia. Hal inilah yang seringkali terlupakan oleh para orangtua.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana sesungguhnya cara mengembangkan dan mendidik anak supaya menjadi anak yang cerdas, mulia, dan brilian? Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik dari Bulgaria, psikolog dan Bapak Proses Belajar Akselerasi menuliskan, “Semua anak dilahirkan dengan potensi menjadi genius. Bagaimanapun, dalam proses pertumbuhannya, banyak yang mengalami kemunduran kegeniusannya oleh saran-saran norma sosial yang negative.” (Adam Khoo & Gary Lee, 2009).

Perkembangan otak ini sendiri memiliki waktu kritis yang terbatas, atau yang biasa disebut dengan usia emas atau goleden ages. Pada usia 0-3 tahun, jaringan otak anak akan berkembang sangat pesat. Masa emas ini hanya berlangsung sekali sepanjang hidup seseorang. Kesalahan pemberian stimulus atau input pada usia ini dapat berakibat fatal terhadap perkembangan syaraf dalam otaknya. Maka, pada usia ini, nutrisi dan stimulasi yang optimal sangatlah diperlukan. Stimulasi yang tepat secara terus menerus akan membuat jaringan semakin tebal dan banyak. Semakin tebal dan banyak jarigan saraf seseorang, maka akan semakin banyak pula sinapsis atau persambungan antar neuron yang terbentuk di otak anak tersebut, dan semakin cerdaslah ia. (Suyadi, 2010).

Perbedaan kecerdasan seseorang sesungguhnya merefleksikan perbedaan kemampuan otak untuk membangun koneksi antar neuron sebagai reaksi dari pengalaman yang ia dapatkan dari lingkungan di sekitarnya (Garlick, 2003 dalam Papalia et.al, 2009).  Pengalaman yang terjadi pada usia-usia awal terutama di 3 tahun pertama bisa memberikan efek jangka panjang dalam pembentukan kapasitas sistem saraf sentral untuk belajar dan menyimpan informasi di kemudian hari saat seseorang sudah dewasa (Society for Neuroscience, 2005; dalam Papalia et.al, 2009). Bahkan, pada tiga tahun pertama inilah berat otak bertambah sebesar 80% jika dibandingkan dengan berat otak orang dewasa. (http://womenworld.org/family/golden-age-for-baby-brain-development)

Namun, yang menjadi ironi, mengingat besarnya kebutuhan hidup masa kini, para pasangan muda justru seringkali terpaksa menjadi terlalu sibuk di masa-masa awal pernikahan mereka. Kebutuhan yang melangit menyebabkan kedua orangtua harus bekerja di luar rumah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga, anak-anak di usia emas terpaksa ‘diserahkan’ kepada asisten rumah tangga yang relative kurang memperhatikan input dan stimulus yang masuk bagi anak-anak. Dari beberapa responden, ditemukan banyak fenomena anak-anak yang menjadi terlambat bicara karena di rumah berinteraksi hanya dengan asisten rumah tangga yang cenderung tidak banyak mengajak anak berbicara. Hal ini sungguh disayangkan, masa-masa emas yang terbuang dan tersia-siakan begitu saja.

Melihat kenyataan ini, maka kami membangun Alkindi Islamic Daycare Plus sebagai solusi bagi orangtua yang harus memenuhi kebutuhan dengan bekerja di luar rumah, namun tetap ingin mengoptimalkan pendidikan dan perkembangan otak buah hati di usia emas mereka. Alkindi Islamic Daycare Plus berkomitmen untuk membantu mengembangkan potensi terbaik anak, dengan memberikan stimulus terbaik, di masa-masa perkembangan terbaik. Dengan metode pengembangan Islami dan sistem pembelajaran berbasis sentra, kami ingin mencetak generasi Indonesia yang brilian, sejak dini :)

free vectors